Taste The Feeling

Just express it

Asal Mula Budaya Kekerasan di IPDN April 13, 2008

Filed under: Knowledge — nonieanggraini @ 12:21 pm

Pada saat APDN daerah sedang mengalami perkembangan pesat dan mengembirakan, tetapi suasana di dalam Depdagri justru sebaliknya. Dalam waktu permulaan dasawarsa 90-an dalam pikiran Mendagri (Pur.Jenderal) dan Sekjen Depdagri waktu itu (Mayjen), mengenai APDN, mereka punya perbedaan lain, hanya ada satu di Indonersia. Dan satu-satunya APDN akan dibangun oleh Depdagri, mengganti yang lama. Kemudian pada tahun 1990 IPDN (masih APDN) sudah siap untuk dibuka.

Setelah itu gedung-gedung IPDN sudah selesai dibangun di Jati Nangor, Sumedang, Jawa Barat. Gedung-gedung dan komplek yang dbangun sangat bagus dan luas (150 ha) dengan pembiayaan dari 27 provinsi se-Indonesia. Maka secara resmi IPDN dibuka, dan secara resmi pula APDN dinyatakan ditutup. Di dalam pikiran mereka, IPDN nanti akan menjadi seperti AKABRI. Dan nanti juga akan menjadi lembaga kebanggan mereka, karena IPDN dibentuk dengan mengadopsi AKABRI.

Rektor yang pertama di IPDN (dulu direktur) adalah seorang ABRI (Brigjen), rektor yang kedua juga seorang ABRI (Mayjen). Pejabat dan pengasuhnya banyak diambil dari ABRI dengan mengadopsi pola pembinaan AKABRI, membuat nuansa militer sangat terasa di lingkungan kampus IPDN. Bahkan para praja sempat ditempatkan di koramil-koramil dan beberapa lulusan IPDN angkatan atu ada yang berpangkat Letnan II dan menjadi komandan-komandan di mana mereka ditempatkan.

Perubahan situasi di Indonesia (reformasi 1998) menyebabkan berkurangnya jabatan yang dipegang ABRI termasuk di IPDN dan seterusnya. Akan tetapi, perubahan kepemimpinan dari pejabat militer ke pejabat sipil di IPDN sama sekali tidak berubah dalam pola-pola pembinaan.

Para praja masih tetap menjalani latihan-latihan yang keras, kadang-kadang terlalu keras. Sampai sekarang banyak masyarakat yang menghendaki agar IPDN ditutup atau masih diteruskan tetapi harus dirubah pola-pola pembinaannya.

 

Leave a Reply