Masalah pencemaran lingkungan bisa diatasi kalau dilakukan usaha pencegahan secara terus-menerus. Kita mulai yuk dari diri kita sendiri.
Pernah enggak kita datang ke restoran buffet, lapar mata, ambil makanan banyak-banyak, tapi enggak dihabisin? Atau, melihat tetangga membuang sampah di kali belakang rumah? Atau, terpaksa menghirup asap hitam dari knalpot kendaraan lantaran setiap hari harus melewati kawasan macet?
Bayangin, berapa banyak orang yang punya kebiasaan buruk seperti ini? Lalu, segede apa pengaruhnya buat lingkungan dan kesehatan kita?
Mungkin kita enggak pernah memikirkan semua itu. Masalah lingkungan rasanya memang bukan sesuatu yang menarik buat diobrolin. Padahal harusnya kita justru cemas karena sudah terjadi berbagai tragedi lingkungan, dari banjir yang masih setia mendatangi Jakarta saban musim hujan, pencemaran air di Teluk Buyat, sampai longsornya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Cimahi, yang menewaskan lebih dari 100 orang.
Kita masih akan meneruskan tradisi baru bertindak setelah ada kejadian?
Mudah-mudah enggak untuk waktu yang akan datang. Beberapa teman kita rupanya sudah menyadari hal itu sehingga mereka lebih dulu ngambil tindakan. Mereka adalah Rahima Indria Hanifa, Erwina Tobing, Rosidah Hardiani, dan Wulan Sary, yang memenangkan seleksi dari PT Bayer Indonesia untuk mengikuti Bayer Young Environmental Envoy 2005 di Leverkusen, Jerman, 14-17 November lalu.
Lewat seleksi
Sesuai namanya, acara ini dihadiri duta-duta muda lingkungan untuk membahas bahaya yang mengancam lingkungan saat ini. Buat mengikuti acara ini mereka harus membuat esai dalam bahasa Inggris yang menceritakan proyek yang mereka kerjakan untuk mencegah pencemaran lingkungan. Kemudian mereka harus mempresentasikan esai tersebut dalam sesi pelatihan di Eco Camps, yang digelar di Puspitek, Serpong (kalau pengin tahu seleksi untuk tahun depan, buka saja www.bayeryoungenvoy.com). Di sinilah Rosidah cs berhasil menyisihkan 11 peserta lain.
Di Leverkusen delegasi Indonesia bertemu dengan delegasi dari negara lain, kayak Cina, Thailand, Filipina, Korea, Venezuela, Polandia, Brasil, Colombia, Ekuador, sampai Kenya. Beda negara, tetapi satu persamaan mereka: semua peduli pada lingkungan.
Kirain di Filipina gue satu- satunya orang yang ngurusin lingkungan. Di sini gue baru tahu, ternyata gue punya banyak teman, celetuk Jeffrey P Mora dari Filipina, yang punya proyek membangun rumah-rumah sehat buat kaum papa di Quezon City.
Teman yang lain, Yvonne Maingei dari Kenya, bergabung sebagai konsultan muda di United Nations Environmental Programme di negaranya. Umurnya baru 18 tahun, tetapi ia banyak terlibat di aksi pemberantasan kemiskinan dan kesetaraan jender. Tugas gue termasuk melobi pemerintah. Gue seneng, di sini jadi banyak dapet ide, katanya, dengan bahasa Inggris yang sangat bagus.
Para envoy (begitu mereka disebut) terlihat surprise banget selama empat hari mengikuti presentasi dan field trip di pusat-pusat penelitian milik Bayer. Pada hari pertama saja mereka baru tahu kalau Bayer enggak cuma bikin Aspirin. Bayer punya tiga area bisnis utama: Bayer Healthcare, Cropscience, dan Materialscience.
Healthcare selain memproduksi obat-obatan juga melakukan penelitian untuk diagnosa dan perawatan penyakit yang dialami manusia maupun hewan. Cropscience melakukan berbagai perlindungan terhadap tumbuhan (misalnya dari insektisida atau hama). Sementara Materialscience antara lain memproduksi polimer, bahan baku plastik, yang dipakai untuk membuat berbagai kostum dan peralatan olahraga. Bola yang dipakai di Piala Dunia 2002 dan Piala Eropa 2004 tuh juga bikinan Bayer lho (jangan lupa juga, ada klub Bayer Leverkusen di sini!).
Kenapa Bayer ikut-ikutan di urusan bola? Ya… karena ini termasuk bagian dari tanggung jawab mereka di bidang sosial.
Menangani sampah
Banyak hal yang dilakukan Jerman sebagai upaya perlindungan terhadap lingkungan. Sudah banyak perusahaan yang merintis usaha tersebut, termasuk Bayer. Salah satu yang menjadi perhatian utama para envoy adalah waktu berkunjung ke Avea, sebuah perusahaan pengolahan sampah.
Di Jerman hukum mengenai masalah pembuangan sampah sudah ada sejak tahun 1976. Bertahun-tahun kemudian terus dilakukan pengembangan amandemen tentang Law of Waste Disposal. Prioritasnya adalah mengurangi jumlah sampah dan menciptakan sistem pembuangan yang ramah lingkungan, dengan prinsip reduce, recycle, dan reusable.
Enggak heran di berbagai tempat sudah disediakan tong sampah yang sudah dipilah. Minimal dua macam: plastik dan kertas. Ada pula sampah gelas, yang dibagi tiga: gelas hijau, merah, dan coklat. Semua sampah ini termasuk jenis sampah yang bisa didaur ulang.
Di Avea sendiri ada 35 macam pemilahan sampah. Dari sampah tanaman, kertas, kayu, besi, elektronik, styrofoam, tembaga, dan lain-lain. Kalau TV kita rusak, bisa kita titip buang di sini.
Banyak juga perusahaan yang membuang sampah perusahaan mereka. Kenapa masalah sampah begitu diperhatikan di negara ini, enggak lain karena sampah termasuk sumber masalah lingkungan yang utama. Problem itu muncul ketika sampah sudah sampai di tahap pembakaran atau pembuangan di TPA. Mau tahu apa akibatnya kalau sampah dibiarkan menggunung di TPA?
Sampah organik (terutama yang berasal dari sisa makanan atau tanaman) adalah jenis sampah yang paling mengakibatkan polusi. Pembusukan sampah basah bisa menimbulkan gas metana, karbon dioksida, dan gas beracun lain. Selain bau, rembesan airnya bisa bikin kualitas tanah menurun. Lalat dan tikus bisa pesta pora di situ, terus nyebar bibit penyakit. Sedangkan kalau sampah dibuang ke kali, selain air jadi tercemar, juga menyebabkan banjir.
Sebenarnya ada cara efektif untuk menangani sampah organik ini, yaitu dengan memprosesnya menjadi pupuk kompos. Maklum, sampah organik kelihatannya masih sulit dikurangi jumlahnya. Enggak cuma di Indonesia, tetapi juga di negara- negara gede lain. Survei yang dibuat Texas Cooperative Extensive Agency, misalnya, menyebutkan bahwa 25 persen dari makanan layak santap di Amrik jadi jatah tong sampah. Di Inggris sepertiga dari makanan yang dikonsumsi manusia juga berakhir di tempat yang sama.
Bebas polusi
Hal lain yang juga ditekan oleh Jerman adalah polusi udara. Ada stasiun pengontrol kualitas udara yang diletakkan dekat lampu lalu lintas, di kawasan perumahan, dan di kawasan industri. Buat mengurangi emisi dari kendaraan, beberapa kawasan padat, kayak dekat mal atau perkantoran, bahkan melarang pemilik mobil memarkir kendaraannya di pinggir jalan. Lalu lintas juga diatur supaya tidak ada kendaraan yang terhenti karena menunggu kendaraan lain berbelok atau berputar. Ini untuk menghindari gas buangan dari mobil yang terpaksa berhenti dalam keadaan mesin menyala.
Sekadar tahu, emisi dari kendaraan itu mengandung racun hidrokarbon, timbal, dan karbon monoksida. Racun-racun ini bisa menyebabkan penyakit, mulai dari iritasi kulit, asma, menurunnya fungsi paru-paru, penyakit jantung, sampai kanker.
Masih banyak proyek yang dilakukan, kayak membangun pabrik pembakaran sampah yang sistemnya dapat mengurangi emisi. Membangun industri kimia yang lebih ramah lingkungan (bebas dari polusi air, udara, suara, dan getaran), membangun laboratorium penelitian untuk mengukur kadar pencemaran air, serta mendesain peta banjir di Sungai Rhein. Lengkap deh!
Pulang dari sini semestinya langsung dapat gelar insinyur. Kuliah gue empat tahun dikebut empat hari di sini, canda Rahima, yang kuliah di Teknik Lingkungan.
Sementara itu, Erwina mengaku sangat terinspirasi dengan kunjungannya ke Avea. Cewek yang kerap disapa Wina ini juga menikmati perjalanannya di Sungai Rhein. Di sini ada kapal bernama Max Prüss milik State Environmental Protection Agency yang dilengkapi laboratorium pengontrol kualitas air.
Di sana kan ada peta yang nunjukin kawasan yang dikurangi tingkat pencemarannya. Hal tersebut sangat menimbulkan pemikiran, apa ya yang bisa dilakukan untuk Kali Ciliwung, cerocos cewek yang doyan fotografi ini.
Sayangnya, teknologi yang sudah dikembangkan oleh Bayer itu enggak serta-merta bisa dicomot dan diterapin di Indonesia. Namanya juga bisnis, jadi ada hak patennya. Ini kan hasil investasi yang nilainya tentu miliaran euro. Investasi yang tujuannya untuk ngutip moto Bayer, Science for a Better Life.
Orang-orang di berbagai laboratorium itu sudah memikirkan nasib kita di masa depan. Yang mereka capai saat ini adalah hasil usaha yang terus-menerus selama puluhan tahun. Selain ada komitmen dari pemerintah dan pemilik industri, rakyatnya juga mau diajak teratur.
Meski begitu, enggak susah kok meniru yang mereka lakukan. Kita mulai dari diri kita aja, mulai hari ini!